Ilmuwan Israel Bergabung dengan CERN, Senjata Pemusnah Masal Akan Terwujud?



CERN sebuah organisasi Eropa untuk riset nuklir, merupakan sebuah komplek laboratorium yang terletak di perbatasan antara Perancis dan Swiss. Tepatnya disebelah barat Jenewa.


Organisasi CERN ini pertama kalai disetuji dan diresmikan oleh 12 anggota pada 29 September 1954. Dan pada tahun 2005 anggotanya bertambah menjadi 20 negara. CERN sendiri merupakan kependekan dari Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire, sebuah komisi yang mediskusikan dan membangun fasilitas penelitian fisik nuklir di Eropa. Mega proyek ini dibangun dengan anggaran Rp. 53,3 Trilliun.



Pada 2005 CERN mempekerjakan hampir 3000 orang. 7931 ilmuwan dan insinyur (mewakili 500 universitas dan 80 kewarganegaraan), kira-kira setengahnya adalah komunitas fisika partikel, yang bekerja untuk eksperimen. Pada April 1993 CERN mengumumkan bahwa World Wide Web akan menjadi bebas ke setiap orang. CERN juga memilikki sebuah sistem komputer besar yang disebut Grid. Grid adalah jaringan komputer yang tersebar luas di seluruh dunia. Fungsi Grid adalah untuk memproses data dalam jumlah besar dari proyek utama CERN saat ini, yaitu LHC (The Large Hadron Collider).


LHC adalah proyek pembangunan sebuah mesin super raksasa, super rumit, dan tentu super mahal. Proyek ini membutuhkan waktu 40 tahun dan mulai dibangun pada tahun 1971. LHC selesai terpasang pada akhir 2008 dan Warming Up generatornya akan dilakukan pada pertengahan 2009.


Tujuan Proyek LHC


Tujuan utama mega proyek LHC adalah untuk menjawab berbagai misteri terbesar dalam alam semesta, yaitu bagaimana alam semesta terbentuk lalu bagaimana dan mengapa alam semesta bisa berkembang seperti sekarang ini.



Dengan proyek ini bisa diketahui apa yg terjadi sepersejuta detik setelah big bang terjadi. Para ahli berharap akan bisa melihat partikel paling eksotis yaitu “Partikel Higg Boson” atau populer disebut “Partikel Tuhan”. Dengan beroperasinya hasil mega proyek ini, Para ilmuwan akan dapat meneliti langsung Hal-hal seperti Genesis Particle, Black Hole, Dark Matter, Higgs Bosson, Force Separator, Graviton Pulse, dan lain-lain.


Ilmuwan Israel resmi bergabung menjadi anggota CERN


Bendera Israel berkibar dan menyatakan secara resmi bergabung dengan CERN bersama dengan 20 negara lainnya yang telah bergabung terlebih dahulu. Para ilmuwan Israel secara resmi bergabung pada 15 Januari 2014, setelah UNESCO secara resmi mengakui negara baru sebagai anggota CERN, atau Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir. Israel adalah anggota baru pertama organisasi sejak tahun 1999 dan menjadi negara anggota ke-21 dari CERN.


"Komunitas ilmiah Israel telah membawa banyak hal untuk CERN selama bertahun-tahun," kata Direktur Jenderal CERN Rolf Heuer. "Saya melihat ke depan untuk menyambut Israel sebagai Negara Anggota ke-21 kami, selain itu untuk meng-intensifkan kerjasama kami."


Israel secara aktif terlibat dalam beberapa proyek besar CERN , termasuk percobaan ATLAS yang ditemukan Higgs boson. Selanjutnya ilmuwan Israel juga akan berburu untuk mencari bukti dimensi ekstra ruang dan materi gelap.

Keputusan penerimaan negara baru untuk bergabung dengan CERN muncul setelah tahun 2010. Sebelum menjadi anggota penuh dari CERN, Israel harus menjadi anggota asosiasi terlebih dahulu, status yang tidak memiliki berbagai hak dan tanggung jawab dari negara-negara anggota penuh. Negara-negara anggota penuh menanggung lebih dari biaya operasi dan proyek-proyek besar pembangunan CERN, dan mereka juga dapat menimbang keputusan penting tentang prioritas masa depan.



Saat ini, Serbia juga merupakan anggota asosiasi, Siprus dan Ukraina harus menjadi anggota asosiasi setelah parlemen mereka menandatangani. Beberapa negara lain, termasuk Pakistan dan Turki, juga telah mengajukan permohonan untuk keanggotaan asosiasi di CERN.


Semua negara anggota lain di Eropa, meskipun Amerika Serikat dan negara-negara non-Eropa lainnya memiliki status pengamat, yang berarti mereka dapat pergi ke pertemuan, tapi tidak bisa menimbang dalam pada keputusan akhir. 


Program Nuklir Israel 


Ketika AS dan Barat sibuk menuding Iran soal fasilitas nuklirnya untuk tujuan pertahanan, tak banyak tudingan yang mengarah pada Israel. Padahal, Israel senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan nuklirnya dengan tujuan militer.


Bahkan, proyek nuklir Israel sejak awal pendiriannya bertujuan militer. Pada tahun 1952, rezim Zionis mendirikan Komisi Energi Nuklir. Lima tahun kemudian komisi tersebut mencapai kesepakatan dengan Prancis mengenai pembangunan reaktor riset Dimona, Negev.


Reaktor riset berkekuatan 24 megawat air berat itu dioperasikan pada tahun 1964. Di reaktor ini pula Prancis melakukan pengolahan bahan bakar nuklir, sekaligus menyiapkan plutonium untuk memenuhi kepentingan militer Israel.


Sejak itu Israel semakin agresif meningkatkan kemampuan nuklir militernya. Pada tahun 1964, CIA melaporkan bahwa Israel berhasil memproduksi bom atom plutonium.


Hingga dekade 1990-an, rezim Zionis meningkatkan jumlah hulu ledak nuklirnya dari 75 hingga 130 buah. Pada tahun 2006, dengan dukungan AS dan negara Barat lainnya, Israel terang-terangan mengumumkan program nuklir militernya. Bulletin of The Atomis Scientist mengumumkan bahwa jumlah hulu ledak nuklir Israel menempati urutan kelima di dunia.


Sejatinya, senjata nuklir merupakan bagian dari doktrin militer Israel. Berbeda dengan Iran yang bersikap transparan terhadap IAEA, Israel justru menolak kedatangan inspektur IAEA untuk meninjau program nuklir yang jelas-jelas bertujuan militer, dan mengancam kawasan dan dunia itu. Tel Aviv juga menolak untuk menandatangani traktat NPT. Namun mengapa Israel yang malah mendesak publik dunia supaya menekan Teheran untuk menghentikan program nuklir sipilnya.

Sumber : wikipedia, vivaforum, konspirasidunia, theglobal riviwe

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.